[FF] Daddy Long Legs

london love

  • Title : Daddy Long Legs
  • Author : Destiani a.k.a deztaem
  • Cast : temukan sendiri didalam cerita
  • Genre : Romance, Life
  • Lenght : One Shoot
  • Rating : Remaja

pic take from ilovedoodle.com

***

Musim dingin 2012

Aku menaiki kereta yang tak tahu kemana akan membawaku pergi. Terluka karena perpisahan itu membuatku mengambil kereta untuk mencari tempat sepi. Salju turun diluar jendela menemani hatiku yang membeku. Aku teringat kembali akan tamanku yang kini telah ditumbuhi parasit. Bunga yang dulu aku jaga kini tak menunjukan kecantikan karna cahaya seolah menghindar dan tak ingin menyinarinya kembali. Aku terkurung dalam sebuah taman yang gelap dan sesak ini. Aku ketakutan saat angin puting beliung merobohkan tembok tamanku. Angin itu terus berbisik seakan mencibirku bahwa aku mempunyai taman yang telah hancur.

Aku pun berlari menjauh dari tamanku seolah menghindar dari angin yang menerjang tamanku. Kini aku berada di sebuah kotapenuh sejarah didunia berharap aku menemukan sejarah yang akan mengubah taman lamaku.

Suara perempuan dengan aksen british membuyarkan lamunanku, suara yang ternyata dari operator kereta api memberitahukan para penumpang  bahwa lima menit lagi kereta akan sampai di stasiun king cross. Setelah manggung di Jerman yang mungkin menjadi penampilan terakhirku sebagai artis, aku melarikan diri ke London.  Aku butuh waktu untuk merenung dan aku pikir London adalah tempat yang tepat untukku merenung.

Kereta yang aku tumpangi akhirnya sampai di Stasiun King cross. Aku segera turun dari kereta, sambil membawa koper berwarna pink aku menelusuri area stasiun king cross. Aku tak henti-hentinya dibuat takjub dengan arsitektur stasiun yang dibuka pada tahun 1852 ini.

Langkah ku terhentikan saat melihat dinding besar yang membuatku mematung sejenak. Aku terdiam menatapi dinding luas bertuliskan platform 9 ¾, kalian ingat dinding ini merupakan dinding dimana harry potter dalam film Potter and the Chamber of Secrets menerobos untuk menemukan kereta express menuju hogwart. Aku membayangkan dapat menerobos dinding itu dan menemukan kereta express yang dapat mengantarkanku kemasa depan seperti cerita didalam MV ku You and I. Aku ingin menaiki kereta express itu sehingga aku akan melupakanmu dan juga terbebas dari cibiran orang.

….

1 minggu kemudian

Angin musim dingin tak menyurutkan orang-orang untuk berhenti beraktifitas. Aku berjalan di antara lautan manusia. Hidup di negeri dimana pangeran wiliam dan Kate midleton tinggal tak semudah yang aku kira. Baru melewati tiga hari di London kantongku mulai menipis, aku pindah dari hotel dan sekarang aku menyewa kamar untuk aku tempati. Sekarang aku bukan lagi artis terkenal statusku disini sebagai warga asing, aku pun harus mencari pekerjaan untuk bertahan hidup disini, ya aku harus menjadi lonely superpower.

Aku terdiam saat melihat buskers bernyanyi, dengan memetik senar-senar gitar laki-laki itu melantunkan sebuah lagu indah yang mampu menyihir pejalan kaki untuk berhenti sejenak melihat penampilannya. Suara tepuk tangan terdengar saat ia selesai menyanyi diringgi suara dentingan  recehanan yang samar-samar terdengar. Dia seperti cerminanku, otakku kembali memutar saat pertama aku datang kesini, tanpa tujuan aku kebingungan apa yang akan aku lakukan disini. Ditempat ini aku menyanyi untuk pertama kalinya menuangkan semua perasaanku saat di Seoul lewat lagu yang ku lantunkan. Udara dingin saat itu tak dapat membekukan air mataku yang terus turun.

“jieun.” Terdengar suara yang familiar akhir-akhir ini.

Retina mataku menangkap gadis berambut pirang, dia Nate si malaikat penolongku. Dia yang membantuku selama aku disini. Tak butuh waktu lama untuk akrab denganya selain dia humble, dia juga orang inggris keturunan Korea jadi aku tak mempunyai kendala saat berkomunikasi. Dia banyak bercerita tentang idola kpopnya, dia mengetahu identitasku? Ya tentu saja namun aku menyuruhnya untuk merahasiakan identitasku, aku menceritakan alasanku pergi kesini dan ia memahaminya.

“ah Nate apa yang kau lakukan disini?”

“aku baru pulang dari supermarket, ibuku menyuruhku membeli ini semua.” Terangnya sambil menunjkan barang2 yang ada ditangannya. “kau bisa bantu aku membawa belanjaan ini?.” Pintanya

“ah tentu saja.” Segera ku raih keresek dari tangannya.
***

Suasana malam selalu ramai dikota ini, seakan kota ini tak pernah tidur, sama seperti Seoul kerlap kerlip lampu selalu menemani suasana malam. Disinilah aku bekerja, disebuah cafe kecil dipinggir kota. Aku menyukai café, sejak dulu, aku telah menyukai suasana di café bahkan aku ingin mempunyai café sendiri. Namun untuk sekarang bekerja di café cukup membuatku senang Aku bekerja sebagai seorang penyanyi di cafe milik ibu Nate. Penghasilanku lumayan  untuk memenuhi kebutuhanku selama tinggal di London. Di tempat ini aku dapat melihat berbagai  aktivitas orang-orang Ada yang bercengkrama dengan teman-temanya, ada yang sibuk sendiri dengan laptopnya, ada yang menunggu seseorang, dan ada juga yang hatinya terluka karena telah putus cinta. Suasana seperti itulah yang sekarang sering aku lihat.

Malam ini aku menyanyikan lagu I’d Do it All Again dari Corinne Bailey Rae sambil memetik senar-senar gitar kesayanganku. Aku menyanyikan lagu itu dengan baik sekelebat bayangannya muncul kembali dibenakku. Mantan pacarku yang akhir-akhir ini sering muncul dikepalaku dan dialah alasanku menangis saat aku teringat kembali . Dia orang yang dulu aku cintai namun seketika menumbangkan rasa percayaku terhadap cinta. Sudah kuberikan semua jiwa ragaku namun dia membalasku dengan rasa sakit yang tertanam di hati. Kecewa itu lah yang kurasakan sekarang, aku ingin marah bukan padanya namun pada diriku sendiri.

Tepuk tangan para pengunjung café mengembalikan kesadaranku, aku tersenyum kepada mereka sebagai rasa terimakasih.
Ku lihat  Nate yang duduk didekat jendela mengangkat tangan kanannya memberikan kode padaku untuk menghampirinya. A

“berhentilah menyanyikan lagu-lagu sedih seperti itu.” Ucap Nate menyambut kedatanganku. “liatlah para pengunjung menjadi sedih saat mendengar lagumu.”

“mianhae, hanya lagu itu yang aku bisa nyanyikan.”

“ya sudahalah jangan bersredih lagi, come on to move on.” Nate mencoba menghiburku. “ah agar kau tak sedih lagi kita nonton konser saja sabtu ini.”

“nonton konser?”

“iya, Niel tak bisa menemaniku menonton konser padahal aku telah menantikan konser ini. Aku tak mau melewatkannya.” Suarannya berubah menjadi tak semangat, ekspresi gadis ini membuatku tak tega.

“baiklah aku akan menemanimu menonton.”

“sinca?” tanyanya tak percaya, aku menganggukan kepala sebagai tanda setuju.

“memang konser apa yang mau kau tonton, apa konser kpop?”

“tadaaa.” Nate mengeluarkan 2 tiket disakunya

Aku terbelalak membaca nama boyband yang tertera di lembar tiket itu. Rasa rindu itu seketika menyergap tubuhku. Aku merindukannya tapi aku tak berani menemuinya. Aku seperti pengecut yang menghindarinya. Dia adalah my daddy long legs
Dia orang yang selalu ada disampingku meskipun pada waktu itu aku mempunyai seorang  pacar. Dia yang selalu mendengar curhatanku bahkan saat aku menceritakan ciuman pertamaku dia tetap mendengarkanku. Namun terkadang aku egois tiidak mendegarkar ucapannya saat dia memberitahuku bahwa laki-laki itu berselingkuh, aku terlalu percaya padanya waktu itu. Dia tetap ada disampingku meskipun aku tak menengarkan kata-katanya hingga aku menemukan fakta sendiri aku menyeselinya.Hal yang aku sukai darinya adalah dia mampu memberikanku energy-energi positif hingga aku dapat tegar.

***

Stadium Wembley sore itu dibanjiri oleh para gadis yang akan menonton idolanya. Aura kebahagian terpancar dari wajah mereka, ya mereka memang tidak dapat menyembunyikan rasa bahagia. Diantara para gadis yang berbahagia hanya akulah satu-satunya orang yang gelisah, gelisah memikirkan apa yang harus aku lakukan jika aku bertemu dengannya, aku terlanjur malu dengan diriku sendiri.

“jieun ah maaf aku telat, aku pergi membeli ini dulu.” Ucap Nate yang datang dengan nafas yang tak beraturan.

“gwencana.” Ucapku, aku memberikan minuman kepadanya yang terlihat kehausan, ia langsung meminumnya.

“gomawo.” Kini nafasnya sudah kembali normal. “aku membelikan ini untukmu.” Dia memberikanku light bando.

“ya aku tak membutuhkannya.” Aku mengembalikan bando light berwarna kuning itu.

“kau ini bagaimana sih mau menonton konser kpop tapi dandananmu biasa saja, kau harus terlihat seperti fans berat
mereka, araseo.” Nate mengomeliku dan segera memasangkan bandu light dikepalaku. “kau tidak membutuhkan topi saat menonton konser tapi kau membutuhkan bando ini.”

Aku hanya diam tak dapat meberontak, aku tersenyum geli melihat dia bersikap seperti fansgirl. Aku jadi memikirkan fansku yang mungkin sekarang menungguku kembali.

“wah neomu yeppo, kau sekarang terlihat seperti seorang fans.” Gumamnya dengan tertawa kecil.

Detik-detik konser dimulai jeritan para fans terdengar, intro lagu Alive menandakan konser dimulai, jeritan para fans semakin menjadi-jadi saat  Big Bang muncul diterpa cahaya-cahaya berwarna-warni, mereka terlihat seperti bintang yang bersinar. Aku hanya diam tak seperti gadis-gadis disekelilingku mereka menjerit jerit saat idolanya itu tersenyum. Aku merasa jadi makhluk aneh disini.

Big bang menuju middle stage tak jauh dari tempat ku berdiri, mereka introducing diri mereka dan kemudian intro lagu fantastic baby terdengar. Irama musiknya yang cepat membuat para fans berjingkrak-jingkrak hingga membuatku tersurung kedepan dan mengenai pembatas besi. Aku kesakitan karena ulah fans itu, aku mengomel pelan sambil menahan rasa sakit.

“are you okay?” indra pendengarku samar-samar menangkap suara yang familiar.

“I’m o…..” lidahku tiba-tiba kelu saat mata ini bertemu dengan mata hangat itu. Aku dan dia sama-sama terdiam, waktu seakan berhenti berputar yang ada hanya pikirannya berputar-putar mencari tahu mengapa aku disini. Dia tersadarkan saat Seungri menepuk pundaknya untuk segera bernyanyi. Hatiku berdegup kencang lebih kencang dari irama lagu fantastic baby.

Aku mencoba kabur dari tempat ini, namun aku terkunci oleh kerumunan orang. Aku menghembuskan nafas panjang merasa kecewa. Ditengah lagu Stupid Liar darah segar keluar dari hidungnya, aku panic mengetahuinya begitupun orang disekitarku namun dia tetap menari seolah dia baik-baik saja. Setelah lagu selesai dia bilang bahwa dia baik-baik saja kepada para penonton, lalu ia menghampiriku dan duduk dipanggung dengan santai. Aku menahan air mataku yang sudah diujung tanduk, aku tak ingin menangis dihadapanya selebih lagi kondisi dia sepertinya tidak baik.

Tiba-tiba dia menyanyikan lagu ‘Don’t Judge Me’ dari Chris Brown, lagu itu seperti ditujukan untukku. Aku mendengar baik-baik dia bernyanyi, matanya terus menatapku seolah memberi semangat kepadaku. Aku menjadi malu sendiri mengapa aku menghindarinya disaat ia ingin menghiburku. Dalam hati aku tak hentinya berkata maaf kepadanya.
***

Kring~kring~kring

Telepon berdering membuatku mau tak mau harus membuka mata, aku segera meraih gagang telepon.

“hallo.” Aku menjawab telepon dengan nada malas

“Jieun bisakah kau menjaga café hari ini?” ucap Nate disebrang sana. “aku kecapean karena nonton konser kemarin.”

“memangnya kemana ibumu?”

“aku lupa bahwa hari ini aku disuruh menjaga café, orang tuaku pergi berlibur kemarin malam spertinya mereka pergi berbulan madu, kau maukan menjaga café untuk hari ini?”

“baiklah, kau istirahatlah.”

***

Hari minggu dimusim dingin tak banyak orang yang berkeliaran diluar, mereka lebih memilih untuk stay dirumah. Aku memperhatikan taman yang berada disamping café dari balik kaca. Taman itu terlihat sepi tak ada orang yang mengunjunginya. Hampa, kosong dingin, itulah yang dapat aku deskripsikan tentang taman disamping cafe, angin berhembus merontokan dedaunan.

“taman itu pasti sangat cantik apabila musim semi.” Gumamku dalam hati. Suara bel café berbunyi aku bersiap-siap menyambut pelanggan.

“welcome to the fate café, can I help you?”

“I wanna one cup espresso double shot.”

“one cup espresso double shot.” Aku mengulangi pesanannya sambil mengetik pesanan dikomputer kasir.

“wait for moment.” Ucapku sambil tersenyum, namun senyumanku memudar dan memasang ekspresi terkejut saat mata ini bertemu dengan mata pelanggan.

DEG…

Aku mencoba sadar apa yang kulihat, orang itu muncul kembali dihadapanku? Bagaimana ini terjadia? Apa ini takdir?

“kita bertemu lagi.” Ucapnya membuat ku tersadar.

Kami duduk dibangku taman yang sepi itu, taman yang pada saat musim dingin jarang dikunjungi orang. Taman yang hampir gersang karena angin musim dingin merontokan dedaunan.

“kau baik-baik saja?” aku memulai pembicraan, ini terasa canggung bagi kita berdua.

“jika kau memperhatikanku kau pasti tahu, tenanglah aku baik-baik saja. Kemarin aku hanya kecapean.” Terangnya yang membuat hatiku sedikit baik. Hati kecil ini merasa senang dapat mendengar suaranya kembali.

“bagaimana kau bisa kesini?” tanyanya tiba-tiba

Semilir angin berhembus membuat hatiku berdebar, bibirku sulit untuk berucap.

“aku,,, melarikan diri kesini.” Jawabku, sebuah jawaban ambigu yang bisa kuberikan. Aku menundukan kepalaku menyembunyikan air mataku yang akan keluar. Tak ada reaksi dar Taeyang, sepertinya laki-laki disampingku menunggu jawabanku selanjutnya.

“nan…” lidah ini terasa bertulang, seperti diterjang angin musim dingin bibirku membeku. Hanya air mata ini yang akhirnya mengalir deras dari pelupuk mata.

Tak ada suara diantara kita hanya suara tangisanku yang semakin keras. Tak perlu aku berbicara langsung padanya, dia
mengerti perasaanku saat ini. Tangan kekar laki-laki disampingku meraih tubuhku kedalam pelukannya, hingga aku dapat mencium aroma tubuhnya.

Aku menumpahkan air mata yang tertahankan selama ini karena aku tak dapat menemukan seseorang yang dapat meminjamkan dadanya untuk ku bersandar. Kini aku menangis sepuasnya membuang segala rasa penyesalanku yang tertahan didalam hati. Semua rasa sakit hatiku yang ditanamkan oleh laki-laki yang pernah kucintai.

“gwencana, aku mengerti perasaannya.” Ucapnya lembut mencoba menangkan hatiku. Tangannya tak hentinya mengelus rambut panjangku.

***

Aku berlari mengejar waktu, hari ini aku ingin melihat Taeyang oppa sebelum ia kembali ke Korea. Hanya tersisa waktu setengah jam sebelum pesawat yang membawa Taeyang lepas landas. Hujan salju yang turun tak aku pedulikan, aku hanya ingin melihatnya saja.

Dibandara aku melihat sekerumunan orang, ya mereka para fans Big Bang yang mengantar kepulangan idolanya. Aku menghambur kedalam kerumunan orang tersebut. Retina mataku mencari-cari sosoknya. perasaanku lega saat sosok dia dapat terjangkau oleh mataku. Aku menerobos maju kebarisan paling depan untuk bertemu dengannya. Pengorbananku tak sia-sia aku berhasil menarik jaketnya yang membuat ia berhenti melangkah.

Aku tersenyum saat ia melihatku dan segera aku berikan sebuah amplop kepadanya.

“ini untukmu oppa.” Ucapku . “pergilah.. dan kembali lagi menjemputku.”

Taeyang hanya tersenyum kepadaku, sebelum ia pergi ia merapihkan syalku yang dililit dileher. Jeritan para fans yang menonton adegan kami tak menghiraukan kami berdua.

“jagalah dirimu baik-baik.” Pesan terkahirnya, aku hanya menganggukan kepala menanggapinya.

Dia berbalik, perlahan tapi pasti langkahnya menjauh dariku, aku memandang punggungnya yang semakin mengecil hingga tak terlihat lagi olehku.

Hujan salju mengiringi kepulangnya, aku berjalan ditengah hujan salju itu. Aku menatapi sesuatu berwarna putih yang jatuh dari langit, indah dan suci seperti cinta yang aku inginkan. Aku merasa lelah dan kuputuskan untuk istirahat disebuah taman yang tak jauh dari airport.

Ditempat lain Taeyang sedang membaca surat didalam pesawat

Dear my daddy long legs

Sebelumnya aku minta maaf karena membuatmu khawatir. Aku tahu kau selalu mengkhawtirkanku sama sepertiku yang selalu mengkhawatirkanmu.

Oppa sebenarnya aku merasa malu dengan diri sendiri, aku terlalu mudah tertipu hingga dengan gampangnya memberikan tamannku ini yang telah kau hiasi. Bunga yang dulu aku jaga kini tak menunjukan kecantikan karna cahaya seolah menghindar dan tak ingin menyinarinya kembali. Aku terkurung dalam sebuah taman yang gelap dan sesak. Sejujurnya aku takut berada didalam taman yang gelap ini.

Oppa mau kah kau membimbingku untuk memperbaiki tamanku yang telah rusak? Bimbinglah aku agar musim semi itu dapat segera datang, agar tamanku berbunga lagi. Aku percaya karena kau adalah TAEYANG (Matahari) yang akan menyinari tamanku, menghangatkan tamanku ketika badai datang.

Oppa, sekarang aku telah mengetahuinya..

Jemputlah aku dan aku akan memberitahukanmu..
From Lee Jieun
***
Malam Tahun Baru 2013 di London

“Jieun ah ada telepon untukmu!” panggil ibu Nate sesaat sesudah aku bernyanyi. Aku segera mengangkat gangang telepon dan menempelannya ketelinga.

“hallo.”

“kau Jieun?” tanya orang disebrang sana.

“ya saya Jieun, anda siapa?”

“bisakah kau ke London bridge malam ini? Seseorang ingin bertemu denganmu disana.”

Tet tet tet . sambungan tersebut tiba-tiba terputus.

“aneh, mana bisa ia menutup telepon sembarangan.” Gumamku kesal. “tapi, apakah mungkin orang yang ingin bertemu denganku adalah..”

Tak berpikir panjang aku mengambil jaket didalam loker dan meminta ijin kepada ibu Nate untuk keluar. Aku berlari menyulusri jalanan kota London yang ramai. Orang-orang berlalu lalang menikmati malam tahun baru bersama dengan orang yang dikasihinya.

Aku memperlambat langkahku setelah sampai di London Bridge, aku mengeluarkan sisi detektifku untuk mencari seseorang yang aku tunggu. Banyaknya kumpulan manusia disini membuat kesulitan untuk menemukannya. Aku mulai frustasi karena tak dapat menemukan sosok dirinya.

“ah apa aku ini ditipu?” pikirku sekali lagi

PUK.

Seseorang menepuk pundakku, sontak aku berbalik kebelakang dan omonaaa diaa orang yang aku cari. Hati ini tak dapat berbohong aku bahagia melihat wajahnya kembali.

“sudah kuduga kau pasti datang.” Ucapku terharu

“terimakasih kau sudah menungguku.” . Aku bahagia mendengar kata-kata itu.

Seperti orang-orang disekitarku, aku berjalan dengan seorang laki-laki malam ini. Malam tahun baru di London menjadi malam yang tak akan terlupakan. Festival yang diselenggarakan pada malam tahun baru memperindah malam dimana orang-orang memiliki harapan baru ditahun depan. Menyambut tahun baru dengan suka cita dan membuka lembaran baru dan dengan harapan baru tentunya.

“aku ingin menaiki itu.” Ucap Taeyang, tangannya menunjuk kearah kincir raksasa yang menjadi ikon kota London.

“kaja aku juga ingin naik London eye, kau tahu selama aku di London aku belum menaikinya.”

“wae?” tanyanya heran

“aku takut pergi sendiri.”

“araseo, scoo.” Taeyang memegang tanganku dan segera membawaku ke London Eye.

How beautiful is !!  hanya itu kata yang dapat terucap dari bibirku saat melihat pemandangan dari dalam London Eyes. Kami dapat melihat keindahan kota London dari atas Big Ben , gedung parlemen inggris yang bergaya gothic, London bridge,  dan bangunan yang berkelap-kelip dapat terlihat jelas dari sini.

“apa yang ingin kau katakan?”

“eh.” Jawabku kaget mendengar pertanyaan yang dilontarkan Taeyang.

“apa kau amnesia? Dalam surat kau bilang akan memberitahuku jika aku menjemputmu, sekarang aku telah menjemputmu so apa yang ingin kau beritahukan padaku?.”

Aku menjadi tegang saat ini, pipiku memerah bagaimana caraku mengatakannya? Dengan penuh keberanian aku mencoba mengaku kepadanya. Aku memegang tangannya dan meletakkannya tepat didadanya.

“aku mengetahui didalam hatimu kau sangat menyangiku dan aku menyadari hatiku seperti itu juga. Aku,, menyayangimu oppa entah sebagai apa aku tak tahu.” Ya aku berhasil mengakuinya meskipun itu terbata-bata.

“aku memang bodoh tak dapat membedakan sayang dan cinta. Aku tak tahu apa sayang ini adalah sebuah cinta.” Lanjutku, kini sebulir air mata jatuh dan aku tak dapat melanjutkan perkataanku.

Taeyang memelukku setelah mendengar pengakuanku, aroma tubuhnya kembali dapat dengan jelas aku cium, bau yang membuat aku tenang dan nyaman berada dalam dekapannya.

“aku mencintaimu karena aku sayang padamu Jieun ah. Kau tau sayang dan cinta itu dua hal yang berbeda.” Ucapnya, tanganya mengelus rambutku yang terurai. “ Hanya cinta yang dapat mebutakan seseorang sedangkan kasih sayang akan selalu jujur. Ingatlah Cinta yang dimulai dengan kasih sayang akan selalu abadi. Lupakan masa lalumu karena masa lalu tidak dapat berubah, hanya masa depanlah yang dapat kau ubah. Aku berjanji akan selalu ada untukmu, aku akan menerangi tamanmu lagi.” Paparnya membuat hatiku menjadi tenang. Dia masih seperti yang dulu, seseorang yang membuat hatiku menjadi tenang karena energy positifnya.

“gomawo oppa sudah mengerti perasaanku.” Ucapku, Taeyang membantu membasuh air mataku. Dia mencium lembut mataku yang berair.

Suara petasan terdengar saat itu petanda tahun baru telah tiba. Sesuatu berwarna warni terbang kelangit menemani bintang-bintang untuk menghiasi langit. Detik ini menjadi lembaran baru bagiku dan semua orang didunia.

***

Teng tong

Suara bel berbunyi, aku yang baru selesai dandan dengan perasaan gembira segera membuka pintu. Hari ini hatiku merasa bahagia karena aku telah mengerti perasaanku sendiri.

“kau sudah datang, silahkan masuk.” Sambutku kepada laki-laki yang berdiri menggunakan kaos putih bertuliskan Chrome Heart di double jaket kulit favoritnya.
Aku dan Taeyang segera duduk dikursi. Mata laki-laki yang ada disampingku tampak memperhatikan setiap sudut kamarku membuat sedikit tidak enak.

“kemanhae, jangan melihat seperti itu.” Sindirku

“ah mianhae aku tak bermaksud.” dia menjadi salah tingkah, matanya kini tertuju padaku. “apa kau sudah siap?”

“tentu saja, apa kau tidak liat aku sudah cantik begini?” ucapku menyombongkan diri

“ya ya ya kau memang cantik tapi tak secantik Kim Tae Hee.”

“aishh.” Umpatku, tanganku melayangkan sebuah tinju kecil ke perut six packs nya.

“aw appa.” Renggeknya. “oke aku jujur, kau memang cantik bahkan mengalahkan para bidadari di surga.” Mendengar ucapanya membuat perut ini geli, aku tak dapat menahan tawa mendengar gombalanya. Tawa kami memecahkan suasana.

Taeyang memintaku untuk menjadi tour guide pribadinya selama berlibur di London. Ya meskipun ini kedua kalinya ke London tapi dia tak sempat untuk berkeliling kota bersejarah ini. Kami berdua naik Bis Hop on Hop off untuk mengatar kami berkeliling kota. Kami memilih duduk diatas agar dapat melihat pemadangan kota London lebih jelas. Aku menunjukan tempat-tempat bersejarah di London kepadanya.

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Buckingham Palace ya tempat kediaman kerajaan Inggris. Artistek megah membuat kami takjub aku jadi iri dengan kate midleton yang dapat tinggal didalam sana. Diluar saja sudah megah bagaimana didalamnya, sulit untuk aku bayangkan keadaan didalam.

“sayang sekali kita tidak dapat melihat pergantian pengawal.” Ucapku kecewa.

“kau dapat melihatnya lain kali.” Ucapnya dengan bijak. “kau mau berfoto dengan pengawal itu?”

“tentu saja.”

Kami mengambil foto bersama para pengawal kerajaan yang menjaga gerbang istana. Para pengawal kerajaan seperti patung meskipun para turis berfoto denganya mereka bergeming dan tetap focus pada tugasnya untuk menjaga istana.

Setelah kelehan kami beristirahat di Trafalgar square yang tak jauh dari Buckingham palace. Duduk ditaman sambil menikmati burger untuk mengisis perut yang mulai keroncongannya. Dibelang kami ada sebuah air mancur yang menjadi penghias Trafalgar Square.

Perjalanan kami berlanjut ke museum London, Gereja Wesminster Abbey dan berakhir disini . yup sekarang kami berada di Royal Academy of Music. Kami berjalan menyelusuri sekolah music terkenal di Britania Raya ini. Bangunan eropa kuno menghiasi setiap sudut sekolah.

“aku ingin meneruskan sekolah disini.” Ucapku yang membuat Taeyang sedikit terkejut. Selama aku di London aku mempunyai cita-cita lagi, aku harus bisa menjadi musisi berbakat itu yang dapat aku lakukan untuk membayar rasa kecewa fansku.

“apa kau sudah memikirkannya baik-baik?” tanyanya dengan santai.

“ne, aku sudah memikirkannya matang-matang dan aku telah mendapat persetujuan omma.”

“baiklah jika itu keinginanku aku akan mendukungmu.” Suaranya yg lembut dapat membuat hatiku tenang.

Kita berjalan menuju taman Royal Acedemy of Music yang tetap indah meskipun saat musim dingin sekalipun.

“oppa..” ucapku membuat dia menghentikan langkanya

“mmm”

“saranghae.” Ucapku malu-malu, untuk kedua kalinya dia terkejut mendengar perkataanku. Aku menatap matanya dalam-dalam untuk meyakinkannya.

“Saranghae.” Ulangku. “sekarang aku telah mengerti apa itu cinta, dan kau adalah orang yang aku cintai.” Pipiku memerah seketika, rasanya malu namun hati ini menjadi plong telah mengatakanya.

Taeyang memegang tanganku erat, pancaran kebahagiannya sangat jelas terlihat di matanya setelah mendengar pengakuanku.

“Nado saranghae Jieun.” Dia mencium punggung tanganku. “gomawo kau sudah mengakuinya.”

Tanganya kini memegang leherku membuatku sesak sesaat bukan karena dia mencekikku tapi aku merasa tegang, aku menutup kedua mataku saat hembusan nafasnya mulai aku rasakan. Perlahan namun pasti bibir kita bertemu, dia mencium lembut bibirku. Aku melingkarkan tanganku kepinggangnya mengeratkan tubuhku dengannya.

Waktu seakan berhenti, ciuman yang tak lama itu seolah-olah lama. Aku bersyukur bahwa ada orang yang benar-benar mencitaiku dan namja didepankulah orangnya. Aku bersandar didadanya yang datar itu mendegar suara detak jantungnya yang samar-samar dapat kudengar.

“oppa jemputlah aku tiga tahun lagi disini.”

“aku janji aku akan menjemputmu untuk membawamu pulang.” Ucapnya membuat hatiku semakin bahagia.

Ku harap dia memang jodohku, orang yang dapat membangun kembali cintaku yang tlah rapuh, membangun kembali taman dihati ini. Aku tak menyangka cintaku ada di orang yang dekat denganku ya dia my daddy long legs namun mulai detik ini dia bukan lagi daddy long legs tapi dia My Prince.

***

Epilog

Musim semi 2016

Aku terdiam menatapi dinding luas bertuliskan platform 9 ¾ dinding dimana harry potter dalam film Potter and the Chamber of Secrets menerobos dinding tersebut untuk menemukan kereta express menuju hogwart. Dulu aku ingin bisa menerobos dinding tersebut dan menemukan kereta express yang dapat mengantarku ke masa depan .

‘Jieun ahh’ aku menoleh mencari sumber suara yang aku rindukan selama ini. Dari kejauhan mataku menangkap sesosok laki-laki yang setia menungguku. Aku pun berlari riang menghampiri dirinya, kupeluk tubuhnya yang hangat itu erat-erat untuk melepas rindu.

Sekarang aku tidak perlu kereta express lagi, aku masih ingin melewati waktu berharga bersama laki-laki yang ada didekapku. Meskipun jalan yang diberikan tuhan tidak sesuai dengan harapanku namun rencana tuhan itu lebih indah dari yang kita inginkan.

akhirnya ff ini dapat diselesaikan juga, sebenarnya ff ini udh lama dibikin sempat beberapa bulan ditunda krn tiba-tiba mood gw buat nulis ilang maklum ya gw orangnya moody an. oiy ini adalah FF pertama yang setting nya di London, sambil bikin ff ini gw ngekhayal pergi ke london. hehehe liburan ke London is one of my dream, siapa sih yang gak mau liburan ke negara yang penuh sejarah.

the last jangan lupa tinggalkan jejak ya😉

gomawo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s